PSIKOPAT SMAGER

welcome to our blog

We are Magcro

Psikopat SMAGER. Diberdayakan oleh Blogger.

Employment

Education

Category 1

Ads Inside Post

sman 1 geger

Find Us On Facebook

Advertisement

Featured Video

Featured Video

slide

Videos

Blogger templates

Blogger news

Gallery

Sports

Menu

Blogroll

Pages - Menu

Posts

Comments

The Team

Blog Journalist

Connect With Us

Join To Connect With Us

Portfolio

    Posted by: Unknown Posted date: 00.18 / comment : 0

    sumber gambar: Google




     by: Galuh Mega Kurnia
    Aku berlari secepat yang kubisa. Tidak peduli dengan pandangan teman-teman sekitar yang melihatku dengan aneh. Aku tidak peduli. Dan ini adalah awal kalinya aku tidak peduli dengan orang-orang disekitarku. Ini semua karena kamu! Daniel. Setelah ini kamu harus membayarnya, membayar kerusuhan yang telah kamu ciptakan.
    Harusnya aku marah. Tapi apa? air mataku malah keluar begitu saja. Membuatku berlari sambil sesegukkan. Aku mencoba menenangkan diri, tapi tidak berhasil. Sial. Aku sangat kacau. Memikirkan kamu saja sudah membuatku kacau. Daniel.
    Aku tidak bisa berfikir jernih lagi. Kakiku terus berlari. Entah sudah berapa jauh, hingga membawaku kesebuah gedung berlantai dua. Rumah mewah dengan banyak tanaman hias disekelilingnya. Seorang security tampaknya sudah hafal dengan sosokku. Ia tergesa-gesa membukakan pagar rumahmu yang berdiri menjulang.
    Aku menerobos masuk kedalam. Mencari sosokmu yang entah dimana. Dirumahmu sangat sepi, aku tidak melihat tante. Aku tidak melihat kak Aila. Aku tidak melihat paman. Dimana mereka semua.
    Tapi aku tidak peduli. Kakiku berlari membawaku ke sebuah ruangan yang sangat aku kenal. Dua pintu besar yang menjadi penghalang orang untuk masuk kedalam ruang pribadimu itu kuhiraukan. Tanganku membukanya begitu saja. Dan satu hal yang kulihat, kamu yang tidur dengan berbagai selang ditubuhmu. Dengan tabuh oksigen tidak lepas dari hidungmu.
    Tante Nella, ibumu. Matanya sangat merah, mengalahkan merahnya bunga mawar. Dia tengah berbicara dengan dokter Abram. Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan. Tapi aku tetap berjalan mendekatimu.
    “Aisyah” panggil tante Nella lirih, aku sudah terlalu lelah untuk membalas panggilannya. Kakiku terus berjalan, membawaku duduk ditepi ranjang tidurmu.
    “Ada apa denganmu?” tanyaku, tapi kamu terlalu sombong untuk mau membalas pertanyaanku. Bahkan untuk melihatku saja, kamu tidak sudi.
    “Kenapa harus memejamkan mata. Aku perintahkan kamu untuk membuka mata kamu dan melihat keadaanku sekarang Daniel.”
    Hah. Percuma aku berteriak-teriak. Kamu tidak akan mau mengacuhkanku. Bukankah itu yang selalu kamu lakukan. Menganggapku tidak ada dan selalu mengacuhkanku. Kamu itu pria sombong. Bagaimana kamu bisa mengacuhkan sahabatmu sendiri. Bahkan sejak seminggu yang lalu, kamu selalu menjaga jarak denganku dan melakukan hal-hal menyebalkan hingga kau membencimu. Ada apa denganmu?
    “Ssst, Daniel sedang tidur sayang” tante Nella, ibumu itu wanita yang sangat baik. Ia tidak marah padaku, ketika aku meneriakimu. Dia malah memelukku, membiarkanku menangis tersedu-sedu di pelukannya.
    “Kenapa Daniel tidak memberitahuku, Tante” rengekku.
    Jika sekarang kamu melihatku. Aku yakin. Kamu pasti akan menertawakanku hingga pita suaramu putus. Bukankah kamu suka melihatku menangis? jadi kenapa sekarang kamu melewatkan event itu? kenapa kamu memilih tidur daripada melihatku menangis? dasar cowok aneh!
    “Daniel hanya tidak ingin kamu sedih, Sayang”
    Tidak ingin aku sedih? apa aku harus percaya dengan kata-kata bundamu? apa benar kamu tidak ingin aku sedih? lalu kenapa seminggu ini kamu menjauhiku? apa kamu tidak memikirkan betapa sedihnya aku ketika tiba-tiba kamu menjaga jarak dariku. Dasar. Pria memang selalu begitu. Tapi aku ini sahabatmu, Daniel!
    Tante merenggangkan pelukannya. Menghapus air mataku yang tidak bisa berhenti keluar. Sebuah kecupan mendarat di pucuk kepalaku.
    “Ini, dari Daniel. Selamat ulang tahun ya, Aisyah”
    Tante memberiku sebuah kotak kecil berwarna merah marun. Juga subah amplop bewarna putih tulang. Dia bilang ini hadiah darimu. Aku pikir kamu sudah melupakan hari ulang tahunku. Setelah itu, beliau pergi keluar dari kamar bersama dengan dokter yang selalu merawatmu.
    “Aneh sekali. Kupikir kamu tidak suka cara konvensional” cibirku.
    Aku masih sangat ingat, ketika kamu mencemoohku karena aku kepergok menulis surat cinta untuk pria yang kusuka. Ia, aku sangat ingat, kamu bilang aku terlalu klasik. Kamu bilang, pria tidak akan suka acara surat-surat-an. Kamu bilang itu terlalu naif. Kamu bilang aku terlalu takut untuk bisa mengungkapkan perasaanku pada pria yang kusukai. Tapi sekarang apa? kamu sendiri yang memberikan surat untukku. Kamu bilang kamu pemberani? kenapa tidak mengatakan langsung padaku. Aku jadi penasaran apa isi suratmu.
    “Aku harap kamu tidak keberatan, kalau aku membaca suratmu disini” ucapku menahan tangis. Entah kenapa, aku selalu ingin menangis ketika membahas tentang dirimu.
    “Dear, Aisyah” baru dua kata, Daniel. Dan aku sudah mewek. Lalu bagaimana aku bisa meneruskan untuk membaca surat ini?
    Selamat Ulang Tahun. Maaf ya, tidak bisa mengungkapkannya langsung. Maaf aku tidak bisa datang kepesta ulang tahunmu kemarin malam. Aku turut bahagia atas sweet seventeenmu, hehe. Ciee, anak kecil udah umur 17 tahun.
    Gak kerasa ya, udah lama kita temenan. Maaf, kalau beberapa hari ini aku suka jahilin kamu. Juga, selamat untuk pacar barumu, yang kemarin udah resmi jadian ditengah-tengah pesta, dan didepan kedua orang tuamu.
    Sekali lagi, selamat.
    Dan baiklah, sepertinya aku tidak mau bermuluk-muluk lagi.
    Aisyah. Maaf, dihari ulang tahunmu. Aku hanya bisa duduk di kursi belajar sambil menulis surat ini untuk kuberikan padamu esok hari. Dokter mengatakan padaku, kalau aku tidak boleh keluar karena kondisiku tidak kunjung membaik. Maafkan temanmu yang lemah ini.
    Aisyah. Maaf tidak pernah memberi tahumu, tentang rahasia terbesarku. Yang jelas, rahasia terbesarku bukanlah penyakit sialan ini. Karena tanpa kuberitahu, kamu sudah tau lebih dulu tentang Leukimia yang kuderita ini.
    Lupakann soal leukimia. Mari kita bahas rahasia terpendamku.
    Yang pertama, aku mencintaimu. Ia, aku mencintaimu Aisyah. Silahkan mencaciku. Tapi aku memang mencintaimu. Aku sadar, aku tidak pantas bersamamu. Kamu terlalu sempurna, untuk pria penyakitan sepertiku.
    Kedua, aku tidak membencimu. Beberapa hari yang lalu, aku selalu membuatmu jengkel dan selalu menjauhimu. Aku bahkan dengan terang-terangan tidak mengacuhkan protesan yang keluar dari mulutmu. Percayalah, aku tidak membencimu, aku hanya ingin membuatmu membenciku.
    Jangan tanya kenapa. Karena aku tidak mau menjawabnya sekarang. Suatu hari nanti, kamu bakal tau dengan sendirinya. Jika kamu benar-benar ingin tau, sepertinya kamu harus belajar mngkhayal.
    Bayangkan.
    Ketika kamu menemukan cintamu, Oh ia, kamu memang sudah menemukannya. Bayangkan saja, Reno, pacar barumu. Dia adalah pria yang sangat kamu cinta, dia juga sahabatmu, dan bayangkan, saat itu Reno belum menjadi kekasihmu. Posisikan dirimu disisiku, bayangkan kamu menjadi wanita yang mengindap leukimia akut, sama sepertiku, bayangkan kamu mengetahui bahwa umurmu tidak lama lagi, tapi Reno masih saja mendekatimu. Apa yang kamu lakukan? membiarkan Reno menempel padamu dan bergantung padamu? atau membuat Reno membencimu agar suatu saat ketika kamu mati, pria yang kamu cintai itu tidak sesedih ketika hubungan kalian baik-baik saja.
    Aku tidak tau pilihanmu. Tapi pilihanku adalah yang kedua.
    Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kamu nanti, ketika aku mati disaat hubungan kita masih seperti biasanya. Kamu dan aku yang selalu tertawa bersama. Aku tidak bisa membayangkan kamu menangis berhari-hari karena aku meninggal Aku memilih untuk membuatmu membenciku, agar kelak ketika aku menghadap Sang Pencipta, kamu tidak terlalu terluka.
    Aku bodoh? ia. Aku memang bodoh.
    Tapi siapa peduli?
    Rahasiaku yang ketiga, dokter mengatakan aku akan mati sebentar lagi. Hanya menghitung hari saja. Aku tidak bisa mengatakan ini padamu, karena nantinya, kamu bakal menonyor kepalaku. Dan aku harus siap-siap mendengar ocehanmu yang panjang lebar. Yang mengatakan bahwa umurku akan lebih panjang dari umurmu. Aku malah berdo’a agar Tuhan segera mengambil nyawaku, agar aku tidak melihat kematianmu. Aku memilih mati lebih awal daripada harus menderita karena merasakan bagaimana ditinggal orang yang sangat kucinta.
    Hey, Bawel, kamu bilang kamu sangat mencintai Renokan? pastikan pria itu tidak akan melukaimu. Karena jika itu terjadi, aku takut, aku tidak bisa ada disampingmu untuk meninju dan membuat pria itu menginap di rumah sakit. Jangan segan-segan untuk meminta body guardku untuk menghabisi Reno ketika pria itu benar-benar melukaimu. Jangan biarkan kamu terluka.
    Aku benci melihatmu menangis, aku sangat benci melihatmu bersedih.
    Sampai disini saja, suratku. Hadiahku ada dikotak warna merah marun. Tenang saja, aku masih hafal dengan kebiasaanmu meminta hadiah. Aku berharap, hari-harimu kedepan akan jauh lebih baik lagi dari sebelumnya.
    Sekali lagi, selamat ulang tahun, sahabatku yang tersayang.
    Tertawalah, Daniel. Sekarang aku benar-benar menangis karena suratmu. Aku melipat surat itu dan memasukkannya kembali kedalam amplop. Sekali lagi, aku melihat wajahmu yang tampan dan damai.
    Sebuah kotak merah marun itu berhasil kubuka. Dan apa yang kulihat? aku tidak bisa percaya dengan apa yang kamu berikan. Kamu benar-benar memberiku sebuah kalung emas putih dengan berlian warna putih mengkilau menghiasi leontinnya. Aku memang pernah mengatakan kalau aku ingin kalung mewah ini menjadi hadiah ulang tahunku. Tapi aku tidak percaya kamu benar-benar membelikan ini untukku. Terimakasih, Daniel. Tapi satu hal yang harus kamu tau. Aku lebih berharap, hadiah ulang tahunku adalah melihatmu kembali sehat seperti dulu. Aku berhadap, Tuhan mengambil penyakit itu darimu, dan membiarkanmu bebas menjalani hidupmu di dunia.
    Aku tidak pernah menyangka kalau kamu mencintaiku. Harusnya kamu mengatakan itu lebih dulu, sebelum Reno mendahuluimu, Daniel. Jika aku tidak se-egois ini, aku akan mengatakan lebih dulu, bahwa aku juga mencintaimu. Tapi aku terlalu takut untuk keluar dari zona amanku. Aku takut kita akan berada di suasana canggung yang membuat jarak kita semakin jauh. Aku takut jauh darimu, Daniel.
    “Cepat bangun” bisikan itu keluar dari mulutku,  tepat di telinga kananmu. “Cepat bangun dan bermain denganku. Aku mencintaimu, Daniel”
    Tanganmu sama sekali tidak bergerak. Aku memberanikan diriku untuk menyentuh tangan kananmu. Menautkan jari-jari kita agar kamu sadar kalau aku ada disini, didekatmu. Aku tidak ingin kehilangan kamu, Daniel. Bangunlah.
    Tapi apa yang aku dengar? suara pekikan panjang dari alat medis itu membuat dokter dan tante Nella masuk ke dalam ruangan. Tante menarikku menjauh, membiarkan dokter dan beberapa suster memeriksa kondisimu. Aku melihat kamu membuka mata indahmu, dan melihatmu tersenyum dan mengucapkan kalimat tanpa suara. “Aku mencintaimu, Aisyah”
    “Jangan meninggalkanku, Daniel. Kumohon, tetaplah disisiku” ucapku disela-sela tangis.
    Tapi takdir tidak berpihak padaku. Tepat setelah kamu menutup kembali mata indahmu, setelah kamu menyebut nama Tuhanmu dan mengucap syahadat, tepat pada pukul 09.23 A.M. tanggal 15 Maret 2015. Kamu kembali pada Sang Pencipta. Meninggalkan dunia dengan damai dan senyuman yang terukir di bibirmu.
    Aku tahu kamu benci melihatku menangis. Tapi ijinkan aku menangis untuk kali ini saja, Daniel. Aku tidak bisa berpura-pura kuat. Biarkan aku menangis untuk kali ini saja, dan aku berjanji, kedepannya aku tidak akan membuatmu sedih dengan melihatku menangis lagi.


    *NB: Kalo kamu pengin ngirim cerpen ato cerbung boleh kok, tinggal kirim aja, nanti q publish :)
    salam
    Email: danang.martin@yahoo.com

    icon allbkg

    Tagged with:

    Next
    Posting Lebih Baru
    Previous
    Posting Lama

    Tidak ada komentar:

    Leave a Reply

Comments

The Visitors says