![]() |
| sumber gambar: Google |
by: Galuh Mega Kurnia
Aku berlari secepat
yang kubisa. Tidak peduli dengan pandangan teman-teman sekitar yang melihatku
dengan aneh. Aku tidak peduli. Dan ini adalah awal kalinya aku tidak peduli
dengan orang-orang disekitarku. Ini semua karena kamu! Daniel. Setelah ini kamu
harus membayarnya, membayar kerusuhan yang telah kamu ciptakan.
Harusnya aku marah.
Tapi apa? air mataku malah keluar begitu saja. Membuatku berlari sambil
sesegukkan. Aku mencoba menenangkan diri, tapi tidak berhasil. Sial. Aku sangat
kacau. Memikirkan kamu saja sudah membuatku kacau. Daniel.
Aku tidak bisa berfikir
jernih lagi. Kakiku terus berlari. Entah sudah berapa jauh, hingga membawaku
kesebuah gedung berlantai dua. Rumah mewah dengan banyak tanaman hias
disekelilingnya. Seorang security tampaknya sudah hafal dengan sosokku. Ia
tergesa-gesa membukakan pagar rumahmu yang berdiri menjulang.
Aku menerobos masuk
kedalam. Mencari sosokmu yang entah dimana. Dirumahmu sangat sepi, aku tidak
melihat tante. Aku tidak melihat kak Aila. Aku tidak melihat paman. Dimana
mereka semua.
Tapi aku tidak peduli.
Kakiku berlari membawaku ke sebuah ruangan yang sangat aku kenal. Dua pintu besar
yang menjadi penghalang orang untuk masuk kedalam ruang pribadimu itu
kuhiraukan. Tanganku membukanya begitu saja. Dan satu hal yang kulihat, kamu
yang tidur dengan berbagai selang ditubuhmu. Dengan tabuh oksigen tidak lepas
dari hidungmu.
Tante Nella, ibumu.
Matanya sangat merah, mengalahkan merahnya bunga mawar. Dia tengah berbicara
dengan dokter Abram. Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan. Tapi aku tetap
berjalan mendekatimu.
“Aisyah” panggil tante Nella lirih, aku sudah
terlalu lelah untuk membalas panggilannya. Kakiku terus berjalan, membawaku
duduk ditepi ranjang tidurmu.
“Ada apa denganmu?” tanyaku, tapi kamu terlalu
sombong untuk mau membalas pertanyaanku. Bahkan untuk melihatku saja, kamu
tidak sudi.
“Kenapa harus memejamkan mata. Aku perintahkan kamu
untuk membuka mata kamu dan melihat keadaanku sekarang Daniel.”
Hah. Percuma aku
berteriak-teriak. Kamu tidak akan mau mengacuhkanku. Bukankah itu yang selalu
kamu lakukan. Menganggapku tidak ada dan selalu mengacuhkanku. Kamu itu pria
sombong. Bagaimana kamu bisa mengacuhkan sahabatmu sendiri. Bahkan sejak
seminggu yang lalu, kamu selalu menjaga jarak denganku dan melakukan hal-hal
menyebalkan hingga kau membencimu. Ada apa denganmu?
“Ssst, Daniel sedang tidur sayang” tante Nella,
ibumu itu wanita yang sangat baik. Ia tidak marah padaku, ketika aku
meneriakimu. Dia malah memelukku, membiarkanku menangis tersedu-sedu di
pelukannya.
“Kenapa Daniel tidak memberitahuku, Tante” rengekku.
Jika sekarang kamu
melihatku. Aku yakin. Kamu pasti akan menertawakanku hingga pita suaramu putus.
Bukankah kamu suka melihatku menangis? jadi kenapa sekarang kamu melewatkan
event itu? kenapa kamu memilih tidur daripada melihatku menangis? dasar cowok
aneh!
“Daniel hanya tidak ingin kamu sedih, Sayang”
Tidak ingin aku sedih?
apa aku harus percaya dengan kata-kata bundamu? apa benar kamu tidak ingin aku
sedih? lalu kenapa seminggu ini kamu menjauhiku? apa kamu tidak memikirkan
betapa sedihnya aku ketika tiba-tiba kamu menjaga jarak dariku. Dasar. Pria
memang selalu begitu. Tapi aku ini sahabatmu, Daniel!
Tante merenggangkan
pelukannya. Menghapus air mataku yang tidak bisa berhenti keluar. Sebuah kecupan
mendarat di pucuk kepalaku.
“Ini, dari Daniel. Selamat ulang tahun ya, Aisyah”
Tante memberiku sebuah
kotak kecil berwarna merah marun. Juga subah amplop bewarna putih tulang. Dia
bilang ini hadiah darimu. Aku pikir kamu sudah melupakan hari ulang tahunku.
Setelah itu, beliau pergi keluar dari kamar bersama dengan dokter yang selalu
merawatmu.
“Aneh sekali. Kupikir kamu tidak suka cara
konvensional” cibirku.
Aku masih sangat ingat,
ketika kamu mencemoohku karena aku kepergok menulis surat cinta untuk pria yang
kusuka. Ia, aku sangat ingat, kamu bilang aku terlalu klasik. Kamu bilang, pria
tidak akan suka acara surat-surat-an. Kamu bilang itu terlalu naif. Kamu bilang
aku terlalu takut untuk bisa mengungkapkan perasaanku pada pria yang kusukai.
Tapi sekarang apa? kamu sendiri yang memberikan surat untukku. Kamu bilang kamu
pemberani? kenapa tidak mengatakan langsung padaku. Aku jadi penasaran apa isi
suratmu.
“Aku harap kamu tidak keberatan, kalau aku membaca
suratmu disini” ucapku menahan tangis. Entah kenapa, aku selalu ingin menangis
ketika membahas tentang dirimu.
“Dear,
Aisyah” baru dua kata, Daniel. Dan aku sudah mewek. Lalu
bagaimana aku bisa meneruskan untuk membaca surat ini?
Selamat
Ulang Tahun. Maaf ya, tidak bisa mengungkapkannya langsung. Maaf aku tidak bisa
datang kepesta ulang tahunmu kemarin malam. Aku turut bahagia atas sweet
seventeenmu, hehe. Ciee, anak kecil udah umur 17 tahun.
Gak
kerasa ya, udah lama kita temenan. Maaf, kalau beberapa hari ini aku suka
jahilin kamu. Juga, selamat untuk pacar barumu, yang kemarin udah resmi jadian
ditengah-tengah pesta, dan didepan kedua orang tuamu.
Sekali
lagi, selamat.
Dan
baiklah, sepertinya aku tidak mau bermuluk-muluk lagi.
Aisyah.
Maaf, dihari ulang tahunmu. Aku hanya bisa duduk di kursi belajar sambil
menulis surat ini untuk kuberikan padamu esok hari. Dokter mengatakan padaku,
kalau aku tidak boleh keluar karena kondisiku tidak kunjung membaik. Maafkan
temanmu yang lemah ini.
Aisyah.
Maaf tidak pernah memberi tahumu, tentang rahasia terbesarku. Yang jelas,
rahasia terbesarku bukanlah penyakit sialan ini. Karena tanpa kuberitahu, kamu
sudah tau lebih dulu tentang Leukimia yang kuderita ini.
Lupakann
soal leukimia. Mari kita bahas rahasia terpendamku.
Yang
pertama, aku mencintaimu. Ia, aku mencintaimu Aisyah. Silahkan mencaciku. Tapi
aku memang mencintaimu. Aku sadar, aku tidak pantas bersamamu. Kamu terlalu
sempurna, untuk pria penyakitan sepertiku.
Kedua,
aku tidak membencimu. Beberapa hari yang lalu, aku selalu membuatmu jengkel dan
selalu menjauhimu. Aku bahkan dengan terang-terangan tidak mengacuhkan protesan
yang keluar dari mulutmu. Percayalah, aku tidak membencimu, aku hanya ingin
membuatmu membenciku.
Jangan
tanya kenapa. Karena aku tidak mau menjawabnya sekarang. Suatu hari nanti, kamu
bakal tau dengan sendirinya. Jika kamu benar-benar ingin tau, sepertinya kamu
harus belajar mngkhayal.
Bayangkan.
Ketika
kamu menemukan cintamu, Oh ia, kamu memang sudah menemukannya. Bayangkan saja,
Reno, pacar barumu. Dia adalah pria yang sangat kamu cinta, dia juga sahabatmu,
dan bayangkan, saat itu Reno belum menjadi kekasihmu. Posisikan dirimu
disisiku, bayangkan kamu menjadi wanita yang mengindap leukimia akut, sama
sepertiku, bayangkan kamu mengetahui bahwa umurmu tidak lama lagi, tapi Reno
masih saja mendekatimu. Apa yang kamu lakukan? membiarkan Reno menempel padamu
dan bergantung padamu? atau membuat Reno membencimu agar suatu saat ketika kamu
mati, pria yang kamu cintai itu tidak sesedih ketika hubungan kalian baik-baik
saja.
Aku
tidak tau pilihanmu. Tapi pilihanku adalah yang kedua.
Aku
tidak bisa membayangkan bagaimana kamu nanti, ketika aku mati disaat hubungan
kita masih seperti biasanya. Kamu dan aku yang selalu tertawa bersama. Aku
tidak bisa membayangkan kamu menangis berhari-hari karena aku meninggal Aku
memilih untuk membuatmu membenciku, agar kelak ketika aku menghadap Sang
Pencipta, kamu tidak terlalu terluka.
Aku
bodoh? ia. Aku memang bodoh.
Tapi
siapa peduli?
Rahasiaku
yang ketiga, dokter mengatakan aku akan mati sebentar lagi. Hanya menghitung
hari saja. Aku tidak bisa mengatakan ini padamu, karena nantinya, kamu bakal
menonyor kepalaku. Dan aku harus siap-siap mendengar ocehanmu yang panjang
lebar. Yang mengatakan bahwa umurku akan lebih panjang dari umurmu. Aku malah berdo’a
agar Tuhan segera mengambil nyawaku, agar aku tidak melihat kematianmu. Aku
memilih mati lebih awal daripada harus menderita karena merasakan bagaimana
ditinggal orang yang sangat kucinta.
Hey,
Bawel, kamu bilang kamu sangat mencintai Renokan? pastikan pria itu tidak akan
melukaimu. Karena jika itu terjadi, aku takut, aku tidak bisa ada disampingmu
untuk meninju dan membuat pria itu menginap di rumah sakit. Jangan segan-segan
untuk meminta body guardku untuk menghabisi Reno ketika pria itu benar-benar
melukaimu. Jangan biarkan kamu terluka.
Aku
benci melihatmu menangis, aku sangat benci melihatmu bersedih.
Sampai
disini saja, suratku. Hadiahku ada dikotak warna merah marun. Tenang saja, aku
masih hafal dengan kebiasaanmu meminta hadiah. Aku berharap, hari-harimu
kedepan akan jauh lebih baik lagi dari sebelumnya.
Sekali
lagi, selamat ulang tahun, sahabatku yang tersayang.
Tertawalah, Daniel.
Sekarang aku benar-benar menangis karena suratmu. Aku melipat surat itu dan
memasukkannya kembali kedalam amplop. Sekali lagi, aku melihat wajahmu yang
tampan dan damai.
Sebuah kotak merah
marun itu berhasil kubuka. Dan apa yang kulihat? aku tidak bisa percaya dengan
apa yang kamu berikan. Kamu benar-benar memberiku sebuah kalung emas putih
dengan berlian warna putih mengkilau menghiasi leontinnya. Aku memang pernah
mengatakan kalau aku ingin kalung mewah ini menjadi hadiah ulang tahunku. Tapi
aku tidak percaya kamu benar-benar membelikan ini untukku. Terimakasih, Daniel.
Tapi satu hal yang harus kamu tau. Aku lebih berharap, hadiah ulang tahunku
adalah melihatmu kembali sehat seperti dulu. Aku berhadap, Tuhan mengambil
penyakit itu darimu, dan membiarkanmu bebas menjalani hidupmu di dunia.
Aku tidak pernah
menyangka kalau kamu mencintaiku. Harusnya kamu mengatakan itu lebih dulu,
sebelum Reno mendahuluimu, Daniel. Jika aku tidak se-egois ini, aku akan
mengatakan lebih dulu, bahwa aku juga mencintaimu. Tapi aku terlalu takut untuk
keluar dari zona amanku. Aku takut kita akan berada di suasana canggung yang
membuat jarak kita semakin jauh. Aku takut jauh darimu, Daniel.
“Cepat bangun” bisikan itu keluar dari mulutku, tepat di telinga kananmu. “Cepat bangun dan
bermain denganku. Aku mencintaimu, Daniel”
Tanganmu sama sekali
tidak bergerak. Aku memberanikan diriku untuk menyentuh tangan kananmu.
Menautkan jari-jari kita agar kamu sadar kalau aku ada disini, didekatmu. Aku
tidak ingin kehilangan kamu, Daniel. Bangunlah.
Tapi apa yang aku
dengar? suara pekikan panjang dari alat medis itu membuat dokter dan tante
Nella masuk ke dalam ruangan. Tante menarikku menjauh, membiarkan dokter dan
beberapa suster memeriksa kondisimu. Aku melihat kamu membuka mata indahmu, dan
melihatmu tersenyum dan mengucapkan kalimat tanpa suara. “Aku mencintaimu,
Aisyah”
“Jangan meninggalkanku, Daniel. Kumohon, tetaplah
disisiku” ucapku disela-sela tangis.
Tapi takdir tidak
berpihak padaku. Tepat setelah kamu menutup kembali mata indahmu, setelah kamu
menyebut nama Tuhanmu dan mengucap syahadat, tepat pada pukul 09.23 A.M.
tanggal 15 Maret 2015. Kamu kembali pada Sang Pencipta. Meninggalkan dunia
dengan damai dan senyuman yang terukir di bibirmu.
Aku tahu kamu benci
melihatku menangis. Tapi ijinkan aku menangis untuk kali ini saja, Daniel. Aku
tidak bisa berpura-pura kuat. Biarkan aku menangis untuk kali ini saja, dan aku
berjanji, kedepannya aku tidak akan membuatmu sedih dengan melihatku menangis
lagi.
*NB: Kalo kamu pengin ngirim cerpen ato cerbung boleh kok, tinggal kirim aja, nanti q publish :)
salam
Email: danang.martin@yahoo.com

Tidak ada komentar: