![]() |
| sumber gambar: Google |
by: Galuh Mega Kurnia
Siang itu, semua anak kelas lemon berkumpul. Rencananya, hari ini mereka akan membahas bersama mengenai nama panggung mereka. Emi—si ketua kelas—memimpin jalannya rapat. “Semuanya duduk” perintah ketua kelas yang sudah berdiri memunggungi papan tulis, dan menghadap anak buahnya.
Siang itu, semua anak kelas lemon berkumpul. Rencananya, hari ini mereka akan membahas bersama mengenai nama panggung mereka. Emi—si ketua kelas—memimpin jalannya rapat. “Semuanya duduk” perintah ketua kelas yang sudah berdiri memunggungi papan tulis, dan menghadap anak buahnya.
Anak-anak duduk di
bangku mereka masing-masing, menuruti permintaan si ketua kelas. “Oke,
anak-anak. Hari ini, kita bakal bahas nama panggung kita” ucap ketua kelas
kemudian.
“Wes to, Mi. Jenenge psikopat ae” Jono menyahuti
ucapan Emi, lengkap dengan logat jawanya yang khas.
“Psikopat itu kesannya negatif, Fosfor aja” timpal
Aika.
“Psikopat itu kepanjangannya Perkumpulan Ilmuan
Konyol IPA Empat, Ka. Bukan psikopat yang sukanya aniaya orang” sela Rana.
“Ia, tapi itu kesannya negatif. Gimana nanti kalau
orang yang gak tau, nyangka kita kumpulan orang-orang kelainan jiwa” sahut
Aika, tidak mau kalah dari kedua anak tadi.
“La emang, fosfor kepanjangannya apa?”
“Federation of
science four”
“Elek iku” Jono menghakimi.
“Gimana jeleknya? itu yang ngusulin wali kelas. Lagi
pula, wali kelas juga gak suka sama nama psikopat” sela Aika lagi.
Anak-anak mulai ramai,
bicara dari sana dan di sahut dari arah yang berlawanan. Kubu utara adalah
kumpulannya anak-anak serius yang gak suka nama psikopat dan kubu selatan
adalah anak-anak gaul yang mendukung nama psikopat.
Ketua kelas bingung mau
fokus ke arah mana. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri sesuai dengan siapa
yang bicara saat itu.
“Dah. Namane go
to the hell ae” salah seorang anak paling menyebalkan satu kelas
mengompor-ngompori.
“Do’a kok jelek banget” umpat Aika, namun anak
menyebalkan yang identitasnya di rahasiakan—takut diamuk masa—itu malah
mengeluarkan kata-kata kotor untuk memancing kemarahan yang lainnya. Kebiasaan
anak suka buat onar. Dan kericuhan terjadi.
“Ya Allah.. lindungilah hamba dari neraka jahanam
karena mendengar kata-kata tidak seronok itu ya Allah” teriak salah seorang
anak yang mulai jenuh dengan pertengkaran diantara sahabatnya.
“Udah-udah” ketua kelas berteriak dan anak-anak
mulai diam. “Alangkah lebih baiknya kalau kita voting aja” usulan bijak itu keluar dari mulut sang ketua kelas.
“Oke, kita voting”
usulan itu disetujui oleh kedua kubu. Namun anak pembuat onar yang entah
keturunan mana itu tidak mau.
“Sekarang, bagi yang menyukai nama psikopat,
silahkan angkat tangan kalian tinggi-tinggi”
Anak-anak yang
mendukung nama psikopat tadi langsung mengangkat tangan mereka.
“Satu, dua, tiga..” bla bla bla, ketua kelas mulai
menghitung. “Hasilnya seri anak-anak” ucap ketua kelas setelah selesai
menghitung. Bahkan jalan demokrasi tidak berhasil menyelesaikan masalah ini.
“Dilanjut besok aja. Guru sudah datang”
KBM berjalan dengan
baik. Namun, aura perselisihan masih tercium sampai di hidung ketua kelas.
Ketua kelas tidak mau anak-anaknya berkelahi. Untuk itu, dia berencana untuk
mendamaikan teman-temannya lagi.
Kelas berakhir, dan
guru sudah keluar. Ketua kelas kembali memimpin rapat diikuti oleh semua anak.
Tapi, anak pembuat onar itu ternyata sudah pulang duluan.
“Begini aja, anak-anak” ucap ketua kelas. “Inikan
cuma masalah kecil, jadi tidak baik kalau kita bertengkar” lanjutnya.
“Kita juga gak mau bertengkar, Mi” jawab Rana.
“Ia, kita juga gak mau bertengkar” Aika mendukung
Rana.
“Bagus. Bagaimana selanjutnya, nama apa yang akan
kita pakai. Eits, gak boleh ada pertengkaran ya” cara ketua kelas memperlakukan
anak buahnya seperti memperlakukan anak kecil itu memunculkan gelak tawa.
“Yaudah, Mi. Kita setuju-setuju aja dengan nama
psikopat. Toh, arti di balik nama itu berbeda dengan arti sesungguhnya” Aika
akhirnya mau menerima usulan anak-anak kubu selatan diikuti dengan teman-teman
yang tadi satu pihak dengan Aika.
“La gitu lo, kan enak” Rana menimpali.
“Baiklah, kita sepakat namanya panggung kita,
psikopat” tok...tokk..tokk.. ketua kelas mengetuk papan tulis tiga kali tanda
rapat sudah selesai.
Anak-anak tidak lagi bermusuhan dan kembali seperti
biasanya. Satu hal yang mereka pelajari hari ini. Don’t let the dust shatter
the glass of good fellowship. Jangan biarkan debu menghancurkan gelas dari
persahabatan yang baik.
*NB:
ada yang ingin di tanyakan. Silahkan berkomentar, dan kami akan senang hati
untuk menjawab kegelishan anda.
Kalo kamu pengin ngirim cerpen ato cerbung boleh kok, tinggal kirim aja, nanti q publish :)
Kalo kamu pengin ngirim cerpen ato cerbung boleh kok, tinggal kirim aja, nanti q publish :)
salam
Email: danang.martin@yahoo.com

Tidak ada komentar: