PSIKOPAT SMAGER

welcome to our blog

We are Magcro

Psikopat SMAGER. Diberdayakan oleh Blogger.

Employment

Education

Category 1

Ads Inside Post

sman 1 geger

Find Us On Facebook

Advertisement

Featured Video

Featured Video

slide

Videos

Blogger templates

Blogger news

Gallery

Sports

Menu

Blogroll

Pages - Menu

Posts

Comments

The Team

Blog Journalist

Connect With Us

Join To Connect With Us

Portfolio

    Posted by: Unknown Posted date: 23.08 / comment : 0

    sumber gambar: Google


    by: Galuh Mega Kurnia
    Siang itu, semua anak kelas lemon berkumpul. Rencananya, hari ini mereka akan membahas bersama mengenai nama panggung mereka. Emi—si ketua kelas—memimpin jalannya rapat. “Semuanya duduk” perintah ketua kelas yang sudah berdiri memunggungi papan tulis, dan menghadap anak buahnya.
    Anak-anak duduk di bangku mereka masing-masing, menuruti permintaan si ketua kelas. “Oke, anak-anak. Hari ini, kita bakal bahas nama panggung kita” ucap ketua kelas kemudian.
    “Wes to, Mi. Jenenge psikopat ae” Jono menyahuti ucapan Emi, lengkap dengan logat jawanya yang khas.
    “Psikopat itu kesannya negatif, Fosfor aja” timpal Aika.
    “Psikopat itu kepanjangannya Perkumpulan Ilmuan Konyol IPA Empat, Ka. Bukan psikopat yang sukanya aniaya orang” sela Rana.
    “Ia, tapi itu kesannya negatif. Gimana nanti kalau orang yang gak tau, nyangka kita kumpulan orang-orang kelainan jiwa” sahut Aika, tidak mau kalah dari kedua anak tadi.
    “La emang, fosfor kepanjangannya apa?”
    Federation of science four
    “Elek iku” Jono menghakimi.
    “Gimana jeleknya? itu yang ngusulin wali kelas. Lagi pula, wali kelas juga gak suka sama nama psikopat” sela Aika lagi.
    Anak-anak mulai ramai, bicara dari sana dan di sahut dari arah yang berlawanan. Kubu utara adalah kumpulannya anak-anak serius yang gak suka nama psikopat dan kubu selatan adalah anak-anak gaul yang mendukung nama psikopat.
    Ketua kelas bingung mau fokus ke arah mana. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri sesuai dengan siapa yang bicara saat itu.
    “Dah. Namane go to the hell ae” salah seorang anak paling menyebalkan satu kelas mengompor-ngompori.
    “Do’a kok jelek banget” umpat Aika, namun anak menyebalkan yang identitasnya di rahasiakan—takut diamuk masa—itu malah mengeluarkan kata-kata kotor untuk memancing kemarahan yang lainnya. Kebiasaan anak suka buat onar. Dan kericuhan terjadi.
    “Ya Allah.. lindungilah hamba dari neraka jahanam karena mendengar kata-kata tidak seronok itu ya Allah” teriak salah seorang anak yang mulai jenuh dengan pertengkaran diantara sahabatnya.
    “Udah-udah” ketua kelas berteriak dan anak-anak mulai diam. “Alangkah lebih baiknya kalau kita voting aja” usulan bijak itu keluar dari mulut sang ketua kelas.
    “Oke, kita voting” usulan itu disetujui oleh kedua kubu. Namun anak pembuat onar yang entah keturunan mana itu tidak mau.
    “Sekarang, bagi yang menyukai nama psikopat, silahkan angkat tangan kalian tinggi-tinggi”
    Anak-anak yang mendukung nama psikopat tadi langsung mengangkat tangan mereka.
    “Satu, dua, tiga..” bla bla bla, ketua kelas mulai menghitung. “Hasilnya seri anak-anak” ucap ketua kelas setelah selesai menghitung. Bahkan jalan demokrasi tidak berhasil menyelesaikan masalah ini. “Dilanjut besok aja. Guru sudah datang”
    KBM berjalan dengan baik. Namun, aura perselisihan masih tercium sampai di hidung ketua kelas. Ketua kelas tidak mau anak-anaknya berkelahi. Untuk itu, dia berencana untuk mendamaikan teman-temannya lagi.
    Kelas berakhir, dan guru sudah keluar. Ketua kelas kembali memimpin rapat diikuti oleh semua anak. Tapi, anak pembuat onar itu ternyata sudah pulang duluan.
    “Begini aja, anak-anak” ucap ketua kelas. “Inikan cuma masalah kecil, jadi tidak baik kalau kita bertengkar” lanjutnya.
    “Kita juga gak mau bertengkar, Mi” jawab Rana.
    “Ia, kita juga gak mau bertengkar” Aika mendukung Rana.
    “Bagus. Bagaimana selanjutnya, nama apa yang akan kita pakai. Eits, gak boleh ada pertengkaran ya” cara ketua kelas memperlakukan anak buahnya seperti memperlakukan anak kecil itu memunculkan gelak tawa.
    “Yaudah, Mi. Kita setuju-setuju aja dengan nama psikopat. Toh, arti di balik nama itu berbeda dengan arti sesungguhnya” Aika akhirnya mau menerima usulan anak-anak kubu selatan diikuti dengan teman-teman yang tadi satu pihak dengan Aika.
    “La gitu lo, kan enak” Rana menimpali.
    “Baiklah, kita sepakat namanya panggung kita, psikopat” tok...tokk..tokk.. ketua kelas mengetuk papan tulis tiga kali tanda rapat sudah selesai.
    Anak-anak tidak lagi bermusuhan dan kembali seperti biasanya. Satu hal yang mereka pelajari hari ini. Don’t let the dust shatter the glass of good fellowship. Jangan biarkan debu menghancurkan gelas dari persahabatan yang baik.
    *NB: ada yang ingin di tanyakan. Silahkan berkomentar, dan kami akan senang hati untuk menjawab kegelishan anda. 
     Kalo kamu pengin ngirim cerpen ato cerbung boleh kok, tinggal kirim aja, nanti q publish :)
    salam
    Email: danang.martin@yahoo.com

    icon allbkg

    Tagged with:

    Next
    Posting Lebih Baru
    Previous
    Posting Lama

    Tidak ada komentar:

    Leave a Reply

Comments

The Visitors says