JUST
SAY “I LOVE YOU”
by : Galuh Mega Kurnia
by : Galuh Mega Kurnia
![]() |
| sumber gambar: Google |
Cuman ngatain aku cinta sama kamu. Tapi itu sulitnya
minta ampun. Ya Tuhan. Bantulah hamba. Mungkin dapat pacar memang bukan
prioritas utamaku. Aku tidak terlalu mendamba hadirnya kekasih. Tapi aku juga
tidak tahan untuk terus menyimpan perasaanku ini.
Aku tidak pernah mengatakan pada siapapun, tentang
perasaanku padanya.
Pada dia, pria berkulit gelap dengan senyum menawan—Oh, Tuhan. Aku bisa gila—bahkan aku terlanjur menyimpan perasaanku ini untuk diri sendiri. Tidak pernah terbersit ide untuk membaginya dengan sahabatku sendiri. Tidak pernah.
Pada dia, pria berkulit gelap dengan senyum menawan—Oh, Tuhan. Aku bisa gila—bahkan aku terlanjur menyimpan perasaanku ini untuk diri sendiri. Tidak pernah terbersit ide untuk membaginya dengan sahabatku sendiri. Tidak pernah.
Pria itu terlalu perfect untuk bisa kudekati.
Bukannya rendah diri, tapi memang itu kenyataannya. Dia pria yang hampir
mendekati sempurna. Jangan tanyakan soal pelajaran. Dia sudah terjamin
kualitasnya. Jangan tanya soal prestasi. Sudah banyak piagam dan piala yang dia
bawa pulang. Jangan tanya soal Agama. Dia terlalu rajin untuk mengerjakan
ibadah-ibadah yang bersifat sunnah. Puasa senin-kamis, tidak pernah absen. Bahkan
aku terlalu takut untuk membandingkan diriku dengannya.
Dilihat dari wajah. Menurutku dia tampan, dengan
kulit gelapnya yang semakin membuatnya terlihat manis. Aku suka melihatnya
tersenyum. Bahkan ketika kami tidak sengaja saling bertatap mata. Dalam hati
aku berjerit histeris kesenangan. Sumpah demi apa? aku tergila-gila pada cowok
itu.
Diam-diam, aku selalu mencuri pandang untuk sekedar
melihatnya. Atau kalau tidak, berlari dan berdiri bersandar ke kusen pintu
kelas. Tentu saja, tingkahku itu terjadi ketika aku tau dia akan berjalan
melewati kelasku.
Kami pernah sesekali bertegur sapa. Aku selalu salah
tingkah ketika ia menyapaku lebih dulu. Dan hasilnya, aku memberikan kesan
dingin yang tidak menyenangkan pada pria itu. Pria yang bernama Aaron. Pria
yang selalu membuat perutku tergelitik dan jantungku berdebar tidak karuan.
Mungkin itu yang namanya JATUH CINTA.
“Hai, Arcene” lagi-lagi, ketika aku sedang asik
menyelesaikan tugasku di tempat foto copyan. Pria itu memanggil namaku. Spontan
aku mengabaikan kertas-kertas yang masih hangat karena baru keluar dari mesin
foto copy.
“Oh, Hai” balasku salah tingkah. Ya, setidaknya aku
sedang berusaha untuk mengurangi kesan dinginku dimata pria itu.
“Tau Keiji nggak? aku pikir dia lagi tugas” tanya
pria itu. Keiji adalah kawannya satu kelas.
“Oh, tadi dia baru aja keluar. Habis foto copy buku
tebel banget” ucapku.
Pria itu tersenyum. “Yaudah, aku balik dulu ya” pria
itu melambai dan pergi begitu saja. Ada rasa tidak rela yang datang
menghampiriku. Andai aku itu wanita pemberani, pasti udah aku minta dia buat
menetap disini. Ia, mungkin itu akan terjadi ketika aku sudah pintar membuat
alibi-alibi yang kreatif.
“Bengong aja, Dek. Foto copyannya sudah selesai tuh”
ucap salah seorang pelanggan. Dan tentu saja, aku langsung mengambil tumpukan
kertas tersebut lalu menseteples kertas-kertas itu sesuai aturannya.
“Maaf ya mbak” ucapku setelah memberikan tumpukan
kertas hasil foto copyan yang sudah jadi pada mbak-mbak tadi yang udah negur
aku dan buat aku blushing.
“Gak apa-apa, Dek”
***
Jam tugasku sudah berakhir, aku melepas kartu
identitasku dan memasukkannya kedalam saku. Kakiku berjalan menuju ke kelas.
Mengambil tas sekolahku dan pulang. Hari ini aku tidak mengendarai sepeda
motor, juga tidak di jemput. Aku lebih suka naik angkutan umum untuk
meminimalkan polusi yang berceceran dimana-mana.
“Arcene. Ada berita hot” salah seorang temanku yang
belum kelas tiba-tiba berlari kearahku.
“Ada apa Ani” ucapku malas.
“Lo percaya gak?” Ani masih sangat antusias.
“Percaya apa?” aku masih tidak tertarik dengan objek
pembicaraan Ani.
“Aaron, tuh cowok udah jadian sama adik kelas”
Pesss
“Aaron pacaran sama adik kelas?” ulangku tidak
percaya. Tapi Ani mengangguk mantap. Bahkan dia memberiku bukti-bukti yang
cukup kuat tentang Aaron yang jadian dengan adik kelasku yang masih duduk di
bangku SMP.
“Hebat benerkan? mana ceweknya cantik banget. Aaron
memang sulit ketebak.” ucap Ani dengan semangat 45nya.
Great,
kamu terlalu lama mengulur waktu. Arcene. rutukku pada
diri sendiri.
Baiklah. Aku hanya perlu bersikap tegar disekolah—bahkan
ketika Aaron menyapaku. Hadapi seperti hari-hari biasa. Aaron tidak bisa buat
kamu rapuh. Aku tidak mau rapuh gara-gara cowok. Dan terlihat lemah dihadapan
teman-teman yang bahkan tidak tau apa masalah pribadiku.
Biarkan saja, aku menangis sembunyi-sembunyi di
dalam kamar. Dan mengiklaskan pria itu dengan wanita yang lebih pantas
untuknya. Dan selamat, buat aku sendiri yang bahkan tidak pernah masuk ke Friendzonenya Aaron. Bagaimana aku bisa
berharap lebih pada pria itu.
Ini hanya masalah waktu, dan aku yakin perasaan itu
akan menguap begitu saja dan dilupakan oleh waktu. Semoga saja.
*NB: Kalo kamu pengin ngirim cerpen ato cerbung boleh kok, tinggal kirim aja, nanti q publish :)
salam
Email: danang.martin@yahoo.com

Tidak ada komentar: